KOTA BOGOR – Beras fortifikasi menawarkan pendekatan berbeda dalam meningkatkan kualitas gizi pangan pokok. Melalui proses khusus, beras dapat diperkaya dengan sejumlah vitamin dan mineral sebelum didistribusikan kepada masyarakat.
Kepala SEAFAST IPB University, Dr Puspo Edi Giriwono, menyebut terdapat lima mikronutrien utama yang dapat ditambahkan ke dalam beras fortifikasi.
Ketiganya berasal dari kelompok vitamin, yakni vitamin B1, B9, dan B12. Dua lainnya berupa mineral besi dan zink.
“Beras fortifikasi adalah beras yang mendapatkan tambahan mikronutrien, yaitu tiga vitamin dan dua mineral,” jelas Puspo.
Penambahan mineral besi diarahkan untuk mendukung upaya menekan risiko anemia. Sementara zink memiliki peran dalam mendukung daya tahan tubuh serta pertumbuhan.
Agar manfaat tersebut benar-benar sampai kepada konsumen, metode produksi beras fortifikasi tidak dapat dilakukan sembarangan.
Puspo menjelaskan terdapat teknologi coating, dusting, serta ekstrusi. Metode ekstrusi dinilai memiliki keunggulan dalam melindungi mikronutrien karena fortifikan dicampurkan ke dalam struktur buliran.
Hal itu berbeda dengan metode yang menempatkan vitamin dan mineral di permukaan beras.
Perbedaannya menjadi penting ketika beras dicuci sebelum dimasak. Pada lapisan permukaan, sebagian zat gizi berpotensi ikut larut bersama air pencucian.
Sementara itu, fortifikan yang berada di dalam buliran relatif lebih terlindungi.
Pengembangan produk tersebut masih membutuhkan dukungan dari sisi industri, termasuk akses teknologi dan modal bagi produsen. Ketersediaan bahan baku fortifikan juga perlu menjadi perhatian karena sebagian masih bergantung pada impor.
Persoalan lain muncul pada proses pengendalian mutu. Rasio fortifikan terhadap beras yang dapat mencapai 1:100 membuat proses pencampuran dan pengambilan sampel harus dilakukan secara presisi.
Selain itu, setiap vitamin dan mineral memiliki tingkat stabilitas yang berbeda selama penyimpanan.
Karena itu, kajian mengenai perubahan kadar fortifikan sejak tahap produksi hingga distribusi diperlukan agar kandungan gizi yang diterima konsumen tetap sesuai standar.
Pengembangan sistem produksi yang konsisten dinilai menjadi kunci agar beras fortifikasi dapat memberikan manfaat gizi secara luas kepada masyarakat.
